:::: MENU ::::

Hidup Adalah Belajar

Sunday, February 14, 2016



Emang ya kalo udah ngomongin cinta itu gak ada habisnya, ada aja yang dibahas, mulai dari memilih pasangan, mancari pasangan, mengungkapkan rasa cinta, dan hingga mempertahankan hubungan

Nah kalo yang begitu dibahas satu-satu bakal ada mata kuliah tersendiri hehe, mungkin kalo pemimpin kita memperhatikan dan sadar pentingnya cinta, pemimpin kita bakal buat kurikulum tersendiri untuk hal ini.

 Mengapa demikian ya karena emang kita gak lepas dari hal namanya hubungan dengan lawan jenis yang bakal jadi teman hidup sampe akhir hayat, dan manfaat yang lain kalo ada kurikulum tersendiri akan mengurangi pelaku LGBT, karena mereka bakal fokus mencari lawan jenis bukan sesama jenis.

Dan karena bakal ada hari Valentine yang masih rame di pasarkan oleh media, tapi saya juga gak tau apakah di remaja sekarang masih memperingatinya, karena saya udah gak bergaul sama anak ABG lagi sekarang hehe..

Dan syukur juga ada karena banyak yang sadar dan menolak untuk memperingati hari valentine dari kalangan aktivis dakwah saat ini, tapi tetap ni media gencar banget mempromsikan hari Vaelntine ini, terlihat dari acara-acaranya dan iklan-iklan produk yang dikemas dengan susana vaelntine.

Sebenarnya jika kita mau memahami valentine mudah banget, karena jelas islam tidak mengajarkan ada hari raya hari yang dirayakan untuk kasih sayang, karena di dalam islam hari raya hanya dua, yaitu idul adha dan idul fitri.

Valentine sendiri berasal dari agama kristen barat, lah jelas disini bukan dari islam, dan islam melarang kita muslim mengikuti kebudayaan mereka.

Sejarah valentine pun sangat kelam, jauh dari adanya kasih sayang, Kisah Hari Valentine bisa ditelusuri dari era Romawi Kuno, terkait kepercayaan paganisme. 

Tiap tanggal 13-15 Februari, warga Romawi kuno merayakan Lupercalia. Upacara dimulai dengan pengorbanan dua ekor kambing jantan dan seekor anjing. 

Kemudian, pria setengah telanjang berlarian di jalanan, mencambuk para gadis muda dengan tali berlumuran darah yang terbuat dari kulit kambing yang baru dikorbankan. Walaupun mungkin terdengar seperti semacam ritual sesat sadomasokis, itu dilakukan orang-orang Romawi lakukan sampai tahun 496 Masehi. Sebagai ritus pemurnian dan kesuburan. 

"Upacara diyakini bisa membuat perempuan lebih subur," kata  Noel Lenski, sejawaran dari University of Colorado, Boulder, seperti dimuat USA Today, 13 Februari 2014. 

Puncak Lupercalia pada 15 Februari, di kaki Bukit Palatine, di samping gua -- yang diyakini menjadi tempat serigala betina menyusui Romulus and Remus pendiri kota Roma dalam mitologi Romawi.

Pada tahun 496, Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine.

Mengerikan bukan, tapi kalo dipikir-dipikir dari pandangan bisnis hari valentine ini jika dibudidayakan sangat menguntungkan lho, misalnya terlihat penjualan kondom meningkat, diskon hotel dimana-mana dan hal ini mnguntungkan banget bagi kaum kapitalis.

Dan bagi kaum pegiat zina mereka lebih kegirangan lagi, karena hari valentine adalah alasan tepat untuk menagih bukti cinta yang berdasarkan dengan berzina, yang padahal bukti cinta itu harusnya memikirkan masa depan yang dicintai bukan malah merusaknya.

Semoga aktivis dakwah semakin gencar meramaikan penolakan terhadap hari yang haram ini, hingga lebih banyak lagi yang sadar akan kerugian yang ditimbulkan, dan semoga pemimpin kita lebih peduli pada moral bangsa dari pada memikirkan keuntungan-keuntungan saat menjabat.


#OneDayOnePost
#BayarUtang
#TantanganMingguKedua
#FebruariMembara


3 comments:

A call-to-action text Contact us