Emang
ya kalo udah ngomongin cinta itu gak ada habisnya, ada aja yang dibahas, mulai
dari memilih pasangan, mancari pasangan, mengungkapkan rasa cinta, dan hingga
mempertahankan hubungan
Nah
kalo yang begitu dibahas satu-satu bakal ada mata kuliah tersendiri hehe,
mungkin kalo pemimpin kita memperhatikan dan sadar pentingnya cinta, pemimpin
kita bakal buat kurikulum tersendiri untuk hal ini.
Mengapa demikian ya karena emang kita gak
lepas dari hal namanya hubungan dengan lawan jenis yang bakal jadi teman hidup
sampe akhir hayat, dan manfaat yang lain kalo ada kurikulum tersendiri akan
mengurangi pelaku LGBT, karena mereka bakal fokus mencari lawan jenis bukan
sesama jenis.
Dan
karena bakal ada hari Valentine yang masih rame di pasarkan oleh media, tapi
saya juga gak tau apakah di remaja sekarang masih memperingatinya, karena saya
udah gak bergaul sama anak ABG lagi sekarang hehe..
Dan
syukur juga ada karena banyak yang sadar dan menolak untuk memperingati hari
valentine dari kalangan aktivis dakwah saat ini, tapi tetap ni media gencar
banget mempromsikan hari Vaelntine ini, terlihat dari acara-acaranya dan
iklan-iklan produk yang dikemas dengan susana vaelntine.
Sebenarnya
jika kita mau memahami valentine mudah banget, karena jelas islam tidak
mengajarkan ada hari raya hari yang dirayakan untuk kasih sayang, karena di
dalam islam hari raya hanya dua, yaitu idul adha dan idul fitri.
Valentine
sendiri berasal dari agama kristen barat, lah jelas disini bukan dari islam,
dan islam melarang kita muslim mengikuti kebudayaan mereka.
Sejarah
valentine pun sangat kelam, jauh dari adanya kasih sayang, Kisah Hari Valentine
bisa ditelusuri dari era Romawi Kuno, terkait kepercayaan paganisme.
Tiap
tanggal 13-15 Februari, warga Romawi kuno merayakan Lupercalia. Upacara dimulai
dengan pengorbanan dua ekor kambing jantan dan seekor anjing.
Kemudian,
pria setengah telanjang berlarian di jalanan, mencambuk para gadis muda dengan
tali berlumuran darah yang terbuat dari kulit kambing yang baru dikorbankan.
Walaupun mungkin terdengar seperti semacam ritual sesat sadomasokis, itu
dilakukan orang-orang Romawi lakukan sampai tahun 496 Masehi. Sebagai ritus
pemurnian dan kesuburan.
"Upacara
diyakini bisa membuat perempuan lebih subur," kata Noel Lenski,
sejawaran dari University of Colorado, Boulder, seperti dimuat USA
Today, 13 Februari 2014.
Puncak
Lupercalia pada 15 Februari, di kaki Bukit Palatine, di samping gua -- yang
diyakini menjadi tempat serigala betina menyusui Romulus and Remus pendiri kota
Roma dalam mitologi Romawi.
Pada
tahun 496, Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari
sebagai Hari Santo Valentine.
Mengerikan
bukan, tapi kalo dipikir-dipikir dari pandangan bisnis hari valentine ini jika
dibudidayakan sangat menguntungkan lho, misalnya terlihat penjualan kondom
meningkat, diskon hotel dimana-mana dan hal ini mnguntungkan banget bagi kaum
kapitalis.
Dan
bagi kaum pegiat zina mereka lebih kegirangan lagi, karena hari valentine
adalah alasan tepat untuk menagih bukti cinta yang berdasarkan dengan berzina,
yang padahal bukti cinta itu harusnya memikirkan masa depan yang dicintai bukan
malah merusaknya.
Semoga
aktivis dakwah semakin gencar meramaikan penolakan terhadap hari yang haram
ini, hingga lebih banyak lagi yang sadar akan kerugian yang ditimbulkan, dan
semoga pemimpin kita lebih peduli pada moral bangsa dari pada memikirkan
keuntungan-keuntungan saat menjabat.
Sumber gambar : http://www.islamdiaries.net/wp
#OneDayOnePost
#BayarUtang
#TantanganMingguKedua
#FebruariMembara

Apapun versi sejarahnya, intinya say no to valentine.
ReplyDeleteValentin ga banget lah
ReplyDeleteValentin ga banget lah
ReplyDelete