
Kemudian Umar mulai
menangis begitu dalam sehingga Abu Ubaidah menyalahkan wanita itu, Umar r.a
kemudian berkata “Biarkanlah dia ya Abu Ubaidah karena dialah seseorang yang
suaranya didengar Allah di atas langit ketujuh.”
Pada suatu malam Umar
r.a mendengar suara wanita tua berkata kepada cucu perempuannya “campurkan
susunya dengan air” jadi sang anak berkata “Wahai neneku tidakkah kau mendengar
bahwa Amirul Mukminin Umar r.a melarang mencampur susu dangan air?” tanpa
mengetahui Umar ada mendengar nenek itu berkata “Dan dimanakah Umar sekarang,
apakah Umar melihat kita?”
Jadi cucu perempuannya
yang beriman, yang yakin bahwa Allah melihat perbuatan mereka, berkata “Jika
Umar tidak dapat melihat kita, maka sesungguhnya Tuhannya Umar dapat melihat
kita!”
Ibn Umar suatu ketika
berpapasan dengan seoarang pengembala digurun, lalu Umar mengujinya dengan
berkata “Juallah kepada kami seekor kambing dari gembalamu.”
Pengembala itu berkata
“Aku hanya seorang budak, dan aku hanya dipercaya untuk mengembalakan kambing”
Jadi Umar berkata
kepadanya “Katakan kepada tuanmu bahwa seekor serigala telah memangsanya.”
“jika aku berkata
kapada tuanku seekor serigala memakannya, maka apa yang akan kukatakan kepada
Allah?”
Apa yang akan kukatakan jika tubuh ini bisa berbicara kelak, pada hari itu, lidah, tangan dan kaki mereka akan menjadi saksi atas mereka, terhadap apa yang dulu mereka kerjakan.” (Quran 24:24)
Dihari itu Allah akan memberi balasan setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (Quran 24:25)
Jadi Ibn Umar menangis
dan menyuruh seseorang membebaskannya dari budak, kemudian berkata kepadanya
“sebuah kalimat membebaskanmu di dunia ini, Aku berdoa kepada Allah agar
kalimat itu membebaskanmu pada hari kau menemui-Nya.” Dia mengatakannya dengan
hati yang penuh keimanan, dan kesadaran diri terhadap Maha Penyayang, ‘Apa yang
akan kukatakan kepada Allah?’
Jika kita ingin
mengetahui tingkat keimanan kita, maka awasi diri kita ketika sendiri,
sesungguhnya iman tidak terwujud didalam melaksanakan shalat, dua raka’at atau
berpuasa pada suatu hari melainkan iman terwujud dalam peruangan melawan diri
sendiri dan hawa nafsu. Demi Allah Nabi Yusuf a.s tidak diberikan derajat yang
tinggi kecuali ketika dia melalui ujian itu.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menhan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (Quran 79:40-41)
Dari ketujuh golongan
yang akan diberi naungan oleh Allah dihari dimana tempat bernaung kecuali naungan-Nya,
seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian dan matanya basah akan air
mata, dan seorang pria yang digoda wanita cantik dan mempunyai jabatan tinggi untuk
melakukan perzinaan, tapi pria itu berkata “Aku takut kepada Allah,”
Celakalah kepada
dosa-dosa, betapa jeleknya dampak dari dosa, dan betapa jahatnya kabarnya, dan
apakah dosa-dosa terjadi kecuali ketika sedang sendiri, atau dalam keadaan
tidak taat?
Wahai kalian yang tidak
bisa bersabar atas apa yang kalian hasratkan, katakan kepadaku siapakah kamu?
Dan apa pengetahuanmu? Seberapa tinggi derajat yang telah kamu capai?
Maka apabila malapetaka yang sangat besar telah datang yaiut kiamat, pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapaun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tingga(nya). (Qs. AnNazi : 34-41)
#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
#01April