(Da'i perusak, antek penguasa. Lembut kepada pemerintah zhalim, tapi keras terhadap kaum mukminin)
.
.
dan berikut tanggapan ulama

Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata:
مسألة مناصحة الولاة، من الناس من يريد أن يأخذ بجانب من النصوص وهو إعلان النكير على ولاة الأمور، مهما تمخض عنه من المفاسد، ومنهم من يقول: لا يمكن أن نعلن مطلقاً، والواجب أن نناصح ولاة الأمور سراً كما جاء في النص الذي ذكره السائل، ونحن نقول: النصوص لا يكذب بعضها بعضاً، ولا يصادم بعضها بعضاً، فيكون الإنكار معلناً عند المصلحة، والمصلحة هي أن يزول الشر ويحل الخير، ويكون سراً إذا كان إعلان الإنكار لا يخدم المصلحة، لا يزول به الشر ولا يحل به الخير.
“Masalah menasehati penguasa, ada dari sebagian orang yang hendak berpegang dengan sebagian dalil yaitu mengingkari penguasa secara terbuka, walaupun sikap tersebut bisa mendatangkan mafsadah/kerusakan. Di sisi lain ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa mutlak tidak boleh ada pengingkaran secara terbuka, sebagaimana dijelaskan pada dalil yang disebutkan oleh penanya. Namun demikian, saya menyatakan bahwa dalil-dalil yang ada tidaklah saling menyalahkan dan tidak pula saling bertentangan. Oleh karena itu, BOLEH MENGINGKARI PENGUASA SECARA TERBUKA BILA TERDAPAT MASLAHAT YANG BISA DI WUJUDKAN, yaitu hilangnya kemungkaran dan berubah menjadi kebaikan. Dan boleh pula mengingkari secara tersembunyi atau rahasia bila hal itu dapat mewujudkan maslahat/kebaikan, sehingga kerusakan tidak dapat ditanggulangi dan tidak pula berganti dengan kebaikan.
(Liqa’ Al-Baabul-Maftuh)
Kata Ustad Abu Abdirrahman At-Thalibi, “meskipun Anda boleh TIDAK KRITIS kepada umara, boleh menasehati diam-diam, boleh menjaga wibawanya (sesuai pandangan politik Anda). Tapi jangan juga bermudah-mudahan MEMBENARKAN apapun kebijakan penguasa, dengan sembarangan menjatuhkan kehormatan sesama Muslim. Karena yang kelak MEMBANTU ANDA di akhirat adalah SESAMA MUSLIM ini. Bukan penguasa”.
#repost Maaher At Thuwailibi
0 komentar:
Post a Comment